Plus dan Minus Interaksi Sosial di Ruang Siber

  • Bagikan
Perkembangan pesat teknologi digital berdampak kepada kehidupan dan perilaku di ruang siber.

Teknologi digital seakan memberi ruang ekspresi bebas tanpa rintangan.

SLEMAN — Dosen Psikologi UGM, Prof Avin Fadilla Helmi mengatakan, perkembangan pesat teknologi digital berdampak kepada kehidupan dan perilaku di ruang siber. Kondisi ini mendorong kemunculan subdisiplin baru psikologi, cyberpsychology.

Bidang ini merupakan studi perilaku manusia dalam konteks interaksi manusia dan internet. Interaksi sosial di ruang siber telah menggeser interaksi yang semula bersifat hubungan langsung menjadi tidak langsung melalui perantara teknologi.

Selain untuk memenuhi kebutuhan berkaitan kodrat sebagai mahluk sosial dengan melakukan interaksi sosial, teknologi digital menjadi pilihan yang tidak dapat dihindarkan. Terutama, untuk membangun interaksi antar manusia sebagai solusi.

Namun, perlu sikap waspada atas penggunaan berlebih yang bisa sebabkan gangguan kesehatan dan kesejahteraan psikologis. Sebab, teknologi digital memberi ruang ekspresi bebas tanpa rintangan lewat anonimitas, asynchronous dan aksesibilitas.

Meski begitu, Avin melihat, di balik kebebasan ekspresi, faktor keterikatan diri terhadap kehadiran orang lain sering kali dilupakan. Sehingga, fenomena presentasi diri yang berlebih atau bisa disebut dengan ngeksis sering terjadi.

“Jejak digital ‘ngeksis’ terekam sepanjang masa dan kadang kurang menguntungkan pada masa depan sebagai bentuk identitas diri,” kata Avin ketika pengukuhannya sebagai Guru Besar Bidang Psikologi Sosial UGM di Balai Senat UGM, Kamis (21/10).

Di ruang siber, kata Avin, penggunaan prinsip anonimitas menyebabkan identitas diri tidak diketahui orang lain. Dengan fitur asynchronous, warganet mempunyai kesempatan untuk dapat mengedit dan membuat foto unggahan yang lebih baik.

  • Bagikan
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments