Financial Close, PLTS Terapung Cirata Mulai Tahap Konstruksi

  • Bagikan
Petugas melintas di sekitar panel surya terapung seusai peresmian Pembangunan pertama PLTS Terapung Cirata di kawasan Waduk Cirata, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (17/12). PT PJB Investasi (PT PJBI) sebagai anak perusahaan PT Pembangkitan Jawa-Bali (PT PJB) bekerja sama dengan perusahaan asal Uni Emirat Arab (UEA) Masdar dalam pembangun PLTS Terapung Cirata 145 MWac terbesar se-Asia Tenggara sekaligus terbesar kedua di dunia dalam rangka meningkatkan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) agar mencapai target 23 persen di tahun 2025 dengan nilai investasi proyek mencapai 129 juta USD atau sekitar 1,8 triliun rupiah.

Proyek PLTS Terapung Cirata proyek pertama di Indonesia dan terbesar di Asia Tenggara

JAKARTA — Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata telah mencapai tahap financial close pada 2 Agustus 2021 dan akan segera memulai tahap konstruksi. PLTS Terapung pertama di Indonesia ini diharapkan dapat beroperasi sesuai dengan target Commercial Operation Date (COD) pada November 2022.

Mewakili Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Dadan Kusdiana, yang hadir pada Deklarasi Financial Close PLTS Terapung Cirata secara daring, berharap proyek PLTS Terapung Cirata dapat dikawal agar beroperasi sesuai target COD.

“Kami menyampaikan ucapan selamat kepada PT PLN (Persero) dan PT Pembangkitan Jawa Bali Masdar Solar Energi (PMSE) yang telah berhasil menyelesaikan tahap Financial Close proyek PLTS Terapung Cirata berkapasitas 145 MWac. Kami berharap agar penyelesaian proyek PLTS Terapung Cirata ini, yang merupakan proyek pertama di Indonesia dan terbesar di Asia Tenggara, dapat di kawal agar beroperasi sesuai dengan target Commercial Operation Date (COD),” tutur Dadan.

Dadan juga mengatakan, penyediaan energi bersih melalui pemanfaatan EBT, khususnya energi surya, menjadi salah satu prioritas untuk mencapai target penurunan Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 29 persen dengan usaha sendiri dan 41 persen dengan bantuan internasional di tahun 2030, serta pencapaian net zero emission pada 2060 atau lebih cepat.

“Penyediaan energi bersih melalui pemanfaatan EBT khususnya energi surya menjadi salah satu prioritas untuk dapat mencapai tujuan tersebut, mengingat potensi surya di Indonesia berlimpah, masa pembangunan yang cepat, dan harganya yang telah kompetitif,” ujar Dadan.

Di samping potensinya yang melimpah, harga jual listrik PLTS saat ini juga semakin kompetitif. Harga jual listrik dari PLTS Terapung Cirata 145 MWac yang hanya sebesar 5,81 centUSD/kWh telah menjadi benchmark bagi pengembangan PLTS di Indonesia.

  • Bagikan
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments