Hukum Berkurban untuk Orang yang Meninggal

  • Bagikan
Penjualan hewan kurban.

Muslim bisa saja berkurban untuk orang yang telah meninggal.

JAKARTA — Dosen Pascasarjana Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ustadz Hari Susanto menjelaskan mayoritas ulama ahlussunnah wal jamaah membolehkan berkurban untuk orang yang sudah meninggal. Seperti ketika Rasulullah SAW membolehkan seorang anak berpuasa untuk orang tuanya, menghajikan orang tuanya, atau bersedekah untuk orang tuanya.

“Demikian juga dengan kurban. Jadi, seorang Muslim bisa saja berkurban untuk orang yang telah meninggal. Meskipun, mazhab Malikiyah mensyaratkan adanya wasiat sehingga kalau yang meninggal itu mewasiatkan, baru kemudian kita wajib melaksanakan kurban tersebut. Jika tidak ada wasiat, maka hukumnya makruh,” jelasnya.

Namun, jumhur ulama berpendapat bahwa justru perbuatan itu merupakan bentuk kebaikan, tetapi mereka tidak menyampaikan dalil secara spesifik. Sebab, hadits yang secara rinci menyebut dibolehkannya berkurban untuk orang yang meninggal memang tidak ada.

“Yang ada hanyalah hadits yang sifatnya umum, sebagaimana diriwayatkan Muslim dari Aisyah,” ucapnya.

Dalam hadits itu, disebutkan bahwa Rasulullah SAW datang membawa hewan untuk disembelih, lalu diletakkan di tempat penyembelihan, kemudian beliau menyembelihnya. Kemudian beliau mengucapkan, “Dengan nama Allah, ya Allah, terimalah ini dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan umat Muhammad.”

“Hadits ini shahih dan memang masih umum. Hadits ini mungkin saja untuk yang sudah meninggal maupun yang masih hidup sehingga tidak juga bisa dipahami bahwa hadits ini untuk yang hidup saja,” kata pengajar fiqih muamalah kontemporer itu.

Imam Kasani dari mazhab Hanafiyah, terang Ustadz Hari, berpendapat hadits tersebut sangat mungkin meliputi yang hidup dan yang sudah meninggal. “Maka dari situ menunjukkan bahwa orang yang sudah meninggal boleh kita sembelihkan hewan kurban untuk kebaikan mayit,” tutur dosen tetap di pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor itu.

Salah seorang fuqaha, Ibnu Abidin, berkata, “Siapa yang berkurban atas nama orang yang sudah meninggal, kemudian dia memperlakukannya seperti ia berkurban, lalu dia sedekahkan ke orang lain, dan dia sendiri juga memakan sebagian dari daging kurbannya, maka pahalanya untuk si mayit.”

Bahkan ulama dari mazhab Hanabilah, lanjut Ustadz Hari, menyampaikan berkurban atas nama orang yang sudah meninggal itu lebih utama. Karena, orang yang sudah meninggal tidak bisa beramal lagi sehingga butuh pahala dari orang yang masih hidup, dalam hal ini dengan berkurban. Setelah itu bisa disedekahkan atau memakannya.

  • Bagikan
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments